Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Jumat, 28 November 2014

TAUBAT

 TAUBAT
Untuk Memenuhi Tugas dari Mata Kuliah Akhlaq Tasawuf
Dosen Bapak Sri Guno Najib Chaqoqo, S.Pdl., M.A.






Disusun Oleh :
Siti Lestari    (D3-PS A / 201-14-009)
Hapsari Dwi S.    (D3-PS A / 201-14-017)
Ayu Indriani    (D3-PS A / 201-14-018)
Muhamad Bilal    (D3-PS A / 201-14-024)

JURUSAN SYARIAH dan EKONOMI ISLAM
 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
TAHUN 2014




TAUBAT


A.    Pengertian Taubat
Taubat berasal dari bahasa arab yaitu taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali.1 Sedangkan taubatyang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut, yang disertai dengan amal kebajikan. Harun Nasution, mengatakan taubat yang dimaksud sufi ialah taubat yang sebenarnya, taubat yang tidak akan membawa kepada dosa lagi.2 Untuk mencapai taubat yang sesungguhnya dan dirasakan diterima oleh ALLAH terkadang tidak dapat dicapai satu kali saja. Ada kisah yang mengatakan bahwa seorang sufi sampai 70 kali taubat, baru ia mencapai tingkat taubat yang sesungguhnya. Taubat yang sebenarnya dalam paham sufisme ialah lupa pada segala hal kecuali ALLAH. Orang yang taubat adalah orang yang cinta ALLAH, dan orang yang demikian senantiasa mengadakan kontemplasi tentang ALLAH.3
Selanjutnya dalam bukunya, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Mustafa Zahri menyebut taubat bebarengan dengan istighfar (memohon ampun). Bagi orang awam taubat cukup dengan membaca astagfirullah wa atubu ilahi (Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya) sebanyak 70 kali sehari semalam. Sedangkan bagi orang khawas bertaubat dengan mengadakan riadah (latihan), dan mujahadah (perjuangan) dalam usaha membuka hijab (tabir) yang membatasai diri dengan Tuhan.4
B.    Hukum Taubat
Hukum taubat ada dua macam:
1.    Wajib. Yaitu bertaubat dari meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.
2.    Sunnah. Yaitu bertaubat dari meninggalkan perkara sunnah atau melakukan perkara yang makruh.
Orang yang bertaubat dari yang pertama termasuk abrar muqtasidin. Adapun yang bertaubat dari keduanya termasuk sabiqin muqarrabin. Sedangkan orang yang tidak melakukan taubat yang pertama bisa menjadi dzalim, fasik bahkan kafir.
Firman Allah Ta'ala :

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

"Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." (Faathir: 32).
C.    Nash-Nash Al-Qur'an dan Sunnah yang Memotifasi Bertaubat
1.    Firman Allah Ta'ala QS. An-Nur: 31

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."
2.    Firman Allah Ta'ala QS. Al-Maidah : 74

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
3.    Diriwayatkan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمْ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ عَلَيْكُمْ

"Seandainya kalian semua melakukan kesalahan (dosa), sehingga dosa kalian mencapai setinggi langit, kemudian kalian bertaubat pasti Allah akan mengampuni kalian." (Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam al Shahihah: 2/604)
4.    Diriwayatkan Ibnu Majah, dari Anas bin Malik radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
"Setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat." (Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam al Misykah dan shahih sunan Ibni Majah).

D.    Tujuan Taubat
1.    Mempeliharakan diri yang suci dari dosa.
2.    Ibadah-ibadah yang dilakukan diterima ALLAH swt.
3.    Dapat mengerjakan ibadah dengan sempurna.
4.    Mendapat balasan yang baik di akhirat.
5.    Jiwa dan perasaan tenang.

E.    Dosa yang Wajib Bertaubat
Kesalahan atau kekhilafan yang dilakukan terhadap orang lain, diantaranya seperti hal-hal berikut.
1.    Tidak memuliakan anak yatim piatu, tidak menganjurkan dan memberi makan orang miskin, memakan harta dengan mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil dan mencintai harta yang berlebihan (lihat QS Al Fajr: 15-20)
2.    Bakhil, merasa tidak cukup dan mendustakan pahala yang baik (lihat QS Al Lail : 1-13)
3.    Mengumpat, mencela, prasangka dan olok-olok (lihat QS Al humazah : 1, dan Al Hujurat : 11-13)
4.    Tidak melaksanakan rukun Islam, terutama mendirikan sholat
F.    Syarat-Syarat  Diterimanya Taubat
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang bertobat agar tobatnya diterima Allah awt. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Ikhlas. Artinya, taubat pelaku dosa harus ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena lainnya.
2.    Menyesali dosa yang telah dilakukannya.
Kalau ia tidak menyesalinya, hal itu sebagai bukti bahwa ia ridla dengan perbuatan dosa tersebut dan pasti akan selalu melakukannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: النَّدَمُ تَوْبَةٌ "Menyesal adalah (inti) taubat." (Ibnu Majah : 4252, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
3.    Meninggalkan  maksiat yang telah dilakukannya.
Orang yang bertaubat tapi tetap melaksanakan dosa tersebut berarti ia telah berdusta dan menghina Allah 'Azza wa Jalla.
4.    Tidak mengulanginya.
Kalau seandainya ia sengaja melakukan dosa tersebut, maka taubatnya batal, ia harus bertekad lagi untuk tidak mengulanginya. Tapi, barangsiapa yang tergoda oleh syetan setelah itu, lalu terjerumus melakukan dosa tersebut, ia harus bertaubat lagi, sedangkan taubatnya yang pertama tetap sah.
5.    Istighfar.
Yaitu  memohon  ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hakNya.
6.    Memenuhi  hak bagi orang-orang yang berhak.
7.    Taubat dilakukan pada waktu yang tepat/masyru', yaitu sebelum dua hal:
a. Sebelum nyawa berada di kerongkongan. Ia yakin akan segera mati sehingga tidak punya pilihan lain kecuali itu, seperti Fir'aun, dikisahkan dalam QS. Yunus: 91-92.
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
"Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seorang hamba selama ruh (nyawa)nya belum di tenggorokan." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

b.     Sebelum Matahari terbit dari barat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

: سَبْعَةٌ مُغَلَّقَةٌ ، وَبَابٌ مَفْتُوْحٌ لِلتَّوْبَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا لِلجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ

"Surga memiliki delapan pintu; tujuh buahnya tertutup, dan ada satu buah yang terbuka untuk taubat sehingga matahari terbit dari barat." (HR. Ath-Thabrani, dicatat oleh Imam Al-Mundziri dalam Taghib Wa Tarhib dengan isnad hasan. Namun hadits ini didha'ifkan oleh Syaikh Al Albani dalam dza'if al Targhib wa al Tarhib)

"Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya." (al Hadits).

G.    Cara-Cara Memohon Ampunan dan Rahmat ALLAH swt :
1.    Menyesal, menginsyafi, dan berazam serta tidak akan mengulangi dosa yang telah dilakukan.
2.    Beristighfar memohon ampunan ALLAH swt.
3.    Beramal kebajikan.
4.    Mensyukuri nikmat ALLAH swt.
5.    Berdoa memohon kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.

H.    Sebab-sebab ALLAH menerima taubat :
1.    ALLAH Maha Pengampun dan hanya ALLAH yang berhak mengampuni dosa hamba-Nya.
2.    Orang yang bertaubat tidak akan mengulangi dosa-dosa lampaunya.
3.    Supaya seseorang itu melakukan kebaikan dan mencegah dari kejahatan.

I.    Macam-macam Taubat
1.    Taubat Nasuha : Taubat yang sungguh-sungguh dan pasti, yang mampu menghapus dosa-dosa sebelumnya. Menguraikan kekusutan orang yang bertaubat. Menghimpun hatinya dan mengenyahkan kehinaan yang dilakukannya. Menurut bin ka’ab al Qurthuby berkata “ Taubat nasuha menghimpun 4 perkara.    
1.    Memohon ampun dengan lisan.
2.    Membebaskan diri dari dosa dengan badan.
3.    Tekad untuk kembali melakukannya lagi dengan penuh perasaan.
4.    Menghindari teman-teman yang buruk.
2.    Taubat Sambel : Taubat sebentar kemudian mengulangi lagi perbuatan yang menyebabkan dosa itu. Dengan kata lain taubat ini tidak akan diterima ALLAH swt karena mempermainkan ALLAH swt.
Empat tingkatan taubat menurut IMAM GHAZALI dalam  kitab IHYA ULUMIDDIN yaitu :
1.    Orang yang taubat dari kesalahannya, kemudian itu dia tetap meninggalkan kesalahan sampai akhir hayatnya. Tiada teringat sedikitpun dalam hatinya untuk kembali mengerjakan dosa, hanya sewaktu-waktu ada juga khilaf dengan tiada disengaja, sebagai seorang manusia biasa. Taubat ini dinamakan taubat yang benar dan jiwa orang itu dinamakan jiwa yang tenang tentram (nafsu mutmainnah).
2.    Orang yang taubat tetap mengerjakan kewajiban yang pokok dan meninggalkan segenap perbuatan keji dan dosa besar, tetapi seringkali juga terlanjur mengerjkan dosa dalam beberapa keadaan yang tidak dapat menguasai dirinya. Namun demikian, setiap terlanjur mengerjakan dosa, dia tetap menyesal dan membaharui kemauannya untuk tidak akan mengulangi sekali lagi. Jiwa orang ini wajar disebut jiwa yang suka mencela atau tariok menarik (nafsu lawammah).
3.    Orang yang taubat dan berjalan baik dalam suatu masa, tetapi kemudian dikalahkan oleh nafsunya yang tidak dapat dilawannya, namun dia tetap taat menjalankan perintah Allah dan meninggalkan dosa selain dari satu dua yang tidak dapat dihentikannya  karena dorongan nafsu, pengaruh kebiasaan atau keadaan sekeliling. Walaupun demikian, dia tetap dalam perjuangan melawan nafsu dan menggharapkan terhindar dari dosa yang demikian. Jiwa orang ini dinamakan jiwa yang pandai menipu (nafsu musawwilah).
4.    Taubat yang hanya tetap berjalan dalam suatu masa saja, kemudian kembali lagi mengerjakan dosa dengan tiada merasa menyesal dan tiada teringat akan taubat. Jiwa orang ini dinamakan jiwa yang menyuruh kepada perbuatan salah (nafsu ammarah bissu’).

J.    Tanda Orang Bertaubat
Diantara contoh dan tanda orang bertaubat adalah :
Lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu disebabkan takut terjerumus lagi ke dalam dosa. Selain itu orang yang bertaubat akan lebih giat beramal karena merasa khawatir dosanya belum diampuni oleh Allah Swt.

K.    Faedah-Faedah Taubat
1.    Terhapusnya dosa.
2.    Kejelekan diganti dengan kebaikan.
3.    Membawa keberuntungan.
4.    Jalan menuju surga.
5.    Pembersihan hati.
6.    Di beri kenikmatan yang baik.
7.    Mendapat kecintaan ALLAH .






L.    Daftar Pustaka
1.    www.wikipedia.com
2.    http://www.satumedia.info/2012/08/sebuah-taubat-yang-sempurna.html
3.    http://hbis.wordpress.com/2007/11/23/tobat-dan-raja%E2%80%99/
4.    http://jokosiswanto77.blogspot.com/2010/06/taubat-dan-raja.html
5.    http://mihwanuddin.wordpress.com/2011/09/13/pengertian-taubat-dan-raja%E2%80%99/
6.    http://www.rapendik.com/program/pengayaan-pembelajaran/religi/264-taubat-dan-raja.html
7.    Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia (Jakarta: Rajawali Pers, 2013) ed.rev . hal.171
8.    Fahrudin, Membentuk Moral : Bimbingan Al-Quran




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com